SI PENJUAL KORAN

“Koran..koran…” teriak seorang anak yang berumur sekitar 13 tahun. Anak itu bertubuh kurus dan ceking. Sebentar-sebentar dia berhenti sambil mengusap keringatnya yang bercucuran.

“Huh, hari ini pun koranku tidak banyak laku. Kalau begini terus untuk makan sehari-haripun rasanya sulit.” Katanya dengan tak bersemangat.

Anak yang bertubuh kurus itu bernama Toni. Ia hidup dengan menjual koran. Orang tuanya meninggal ketika ia masih berumur 8 tahun. Yang tersisa hanyalah adiknya. Dengan bantuan tetangganya, ia mendapatkan pekerjaan sebagai loper koran. Walaupun terasa berat, ia tetap merasa harus bertanggung jawab untuk menghidupi adiknya yang masih kecil. Tiba-tiba ia dikagetkan oleh sebuah suara yang dikenalnya.

“Toni…Toni…!” teriak salah satu teman Toni.

“Ada apa sih Di, kok kayaknya serius banget”

“Aduh ini gawat Ton, itu loe adik kamu..!”

“Kenapa adikku? Kenapa..?”, tanya Toni dengan perasaan cemas.

“Adik kamu…adik kamu kecelakaan.” Jawab Adi dengan terbata-bata.

Begitu mendengar adiknya kecelakaan, Toni segera berlari menuju ke rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit, dia melihat adiknya terbaring tak berdaya di tempat tidurnya. Betapa sedih hatinya melihat adik yang dicintainya menderita. Dengan perasaan sedih dia kemudian memeluk adiknya. Dia merasa Tuhan tak adil. Tuhan selalu memberikan cobaan tanpa tahu bagaimana memberi anugrah padanya. Kemudian muncul sesosok tubuh berbaju putih-putih yang mengejutkannya dengan sebuah pertanyaan.

“Apakah anda dari keluarga pasien?” tanya Dokter itu.

“Benar, Dok! Dia itu adik saya”

“Begini, adik anda harus segera dioperasi. Kalau tidak segera dioperasi, hidupnya hanya tinggal menghitung hari. Kalau anda ingin adik anda selamat, saya tunggu keputusan anda nanti malam”, kata Dokter dengan tegas.

Bagai telur di ujung tanduk, itulah peribahasa yang cocok untuk keadaannya. Di sisi lain dia tidak mau adiknya meninggal, tapi di sisi lain juga dia tidak mempunyai biaya untuk operasi adiknya. Dia kemudian berjalan sebentar keluar, dia ingin menghirup udara segar untuk menenangkan pikirannya yang sedang kalut. Tanpa sengaja sebuah mobil yang lewat di sampingnya mencipratkan air ke bajunya. Bajunya pun menjadi kotor. Untung saja mobil itu kemudian berhenti dan pemiliknya mobilnya turun. Dan tampaklah seorang laki-laki yang bertubuh kekar. Jas yang dipakainya membuatnya tampak lebih gagah. Setelah diingat-ingat, Toni mengenali wajah itu. Bagaimana tidak? Ia adalah seorang pengusaha terkenal yang sering masuk TV. Dia juga banyak menyumbangkan makanan dan pakaian bagi korban bencana alam, apalagi Toni sering melihatnya memberikan santunan bagi anak yatim piatu. Sungguh pengusaha yang dermawan. Laki-laki itu perlahan-lahan mendekatinya. Perasaan takut mulai muncul di benaknya. Apalagi dia hanya orang kecil, bagaimana kalau laki-laki itu memarahinya? Tanpa terasa kakinya sudah gemetaran dan ia perlahan-lahan berjalan mundur. Tapi tak terasa laki-laki itu sudah memegang pundaknya. Dan tanpa disangka-sangka ternyata laki-laki itu tersenyum dan melontarkan sebuah pertanyaan.

“Anak manis, maaf ya karena tadi paman mengotori bajumu! Ngomong-ngomong mengapa kamu berjalan di tengah jalan, bukankah ada trotoar? Kamu ingin mati sia-sia ya?” tanya paman itu dengan lembutnya.

“Untuk apalagi saya hidup di dunia ini kalau ternyata Tuhan memberikan cobaan yang begitu berat dan tidak pernah memberikan jalan keluarnya kepada saya?”

“Ayolah masuk mobil paman! Setelah itu baru kamu ceritakan masalahmu, mungkin paman bisa membantu”, jawab paman itu dengan bijaksana.

Toni mengangguk dan masuk ke dalam mobil itu. Ia tidak mempunyai pilihan lagi kecuali mengharapkan bantuan dari paman itu. Ia pun kemudian menceritakan tentang semua masalahnya. Mulai dari dia ditinggalkan oleh orang tuanya sampai adiknya yang kecelakaan dan harus segera dioperasi. Seperti mengerti, paman itu kemudian berkata lagi.

“Kebetulan paman tidak dikaruniai seorang anak. Bagaimana kalau kamu dan adikmu paman angkat menjadi anak paman? Semua biaya operasi paman yang tanggung.”

“Terima…terima kasih paman. Mudah-mudahan paman diberkati Tuhan. Karena jasa paman, aku bisa keluar dari kesulitan ini.” jawab Toni dengan tangis yang tersedu-sedu.

“Ayolah, jangan buang-buang waktu lagi. Ayo cepat kita harus segera ke rumah sakit!”

“Ayo!” lanjut Toni dengan penuh semangat.

Sesampainya di rumah sakit, paman yang bernama Herman itu segera mengurus biaya operasi itu. Dan malam itu juga, Dokter segera mengoperasi adik Toni. Saat operasi selesai, Toni adalah orang pertama yang masuk ke ruang operasi itu. Ia begitu mencemaskan adiknya. Saat melihat adiknya, senyum pun tersungging dari bibirnya. Wajahnya yang tadi tegang menjadi cerah saat melihat adiknya sudah sembuh melawan penyakit. Toni pun segera memeluk paman Herman yang telah menyelamatkan adiknya.

Setelah adiknya diperbolehkan pulang, teriakan Toni pun tidak pernah terdengar lagi di pasar. Kini dia telah menjadi anak angkat dari ayah yang mempunyai perusahaan besar. Dia pun bahagia dengan adiknya bersama paman Herman. Dan perlu diingat, apapun cobaan yang diberikan oleh Tuhan hanya kegigihanlah yang dapat mengatasinya. Sedangkan Tuhan hanyalah memberikan petunjuk kepada kita, dan kita harus pintar-pintar untuk memanfaatkannya.

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s