LOVE AT FIRST SIGHT

Bruk…! Aku menabrak seorang laki-laki. Tingginya mungkin cuma lebih 5 cm dariku, tapi dia terlihat cool dan keren. Mataku tak bisa lepas dari senyumannya. Oh…sungguh menawan hingga membuatku tak berhenti memandangnya. Ya Tuhan…mengapa kau ciptakan laki-laki setampan dia. Laki-laki yang pertama kali membuat jantungku berdetak begitu cepat. Aku tak tahu siapa namanya, maklum aku disini hanya murid baru. Aku mencoba melihat label namanya, tapi terhalang oleh tasnya.

“Kamu gg apa-apa kan?”, tanyanya. Kata-kata itu membuatku tersadar akan lamunanku.

“Oh ya. Aku gg apa-apa.” Aku segera berlari meninggalkan laki-laki itu. Aku begitu gugup saat berhadapan dengannya. Apalagi aku harus segera menemukan kelasku sebelum bel berbunyi.

“Kelas 2-1 itu dimana ya?” Aku terus menggumam sambil melirik ke kiri dan ke kanan. Sampai akhirnya aku berdiri di sudut ruangan yang sepi…untuk sebuah ruangan kelas. Walaupun begitu aku tetap masuk ke ruangan itu dan sibuk menoleh kesana-sini mencari bangku kosong. Sampai mataku terhenti dan melihat ada kursi kosong di sudut kelas itu. Akupun segera menghampirinya dan aku melihatnya lagi…laki-laki cool itu ternyata duduk disana. Ya, karena ini adalah bangkunya.

“Namaku Echa, kamu gga keberatan kan aku duduk di sampingmu?” tanyaku mencoba membuka pembicaraan. Tapi aku tak mendengar jawabannya.

“Kok gga dijawab? Apa kamu gga suka aku duduk disini?” Aku mencoba mengulangi pertanyaanku.

“Kamu itu berisik banget ya! Kalau mau duduk ya duduk aja. Gitu aja kok repot.”

Aku tersentak kaget mendengar teriakannya. Aku mencoba menahan air mata ini, tapi tak bisa. Berkali-kali aku mengusap air mata yang membanjiri wajahku.

“Dasar cewek! Bisanya nangis aja. Cengeng banget sich? Sudah kelas 2 SMA kok nangis. Mau cari perhatian ya?” dia melanjutkan kata-katanya.

Kata-kata terakhir itu membuat dadaku semakin sesak. Aku mulai membencinya dan sangat membencinya hingga tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata. Tapi aku mulai sadar, kepalaku terasa pusing dan badanku mulai terhuyung-huyung. Sesaat kemudian aku tak sadar apa yang terjadi, yang kudengar terakhir kali hanyalah teriakan teman-teman. Beberapa menit kemudian aku terbangun dan mulai pelan-pelan membuka mataku. Tampak dokter kecil sedang berada disampingku dan dia..Uh..kenapa mesti ada dia di dekatku.

“Ngapaen kamu disini? Bukannya aku gga penting buat dipikirin?”

“GR banget sich? Siapa yang mikirin kamu? Aku cuma mau tanggung jawab. Kamu pingsan gara-gara bertengkar dengan aku kan? Maaf atas kejadian tadi, aku lagi banyak masalah. Sampai-sampai aku tak sadar sudah melukai hatimu.”

“Siapa yang GR? Lagian aku pingsan gar-gara aku gga sempat sarapan tadi pagi.” Kataku dengan ketus. Aku masih tak dapat memaafkannya, enak saja menyalahkan hal yang gga ada hubungannya denganku. Aku segera pergi dari UKS itu. Aku tak tahan diam disana lebih lama lagi. Aku mulai begitu muak dengan sikap dinginnya. Tapi aku mendengar langkah kakinya. Apa dia mengejarku ya? Huh..untuk apa lagi? Apa mau minta maaf ya? Aku mulai menebak-nebak sendiri. Aku akui aku masih mengaguminya. Bagaimanapun juga aku menyukainya saat pertama kali aku bertemu dengannya.

“Cha..nie hp kamu ketinggalan tadi. Aku cuma mau ngasi itu aja. Yawda sekarang aku mau ke kelas dulu ya…See you!”

“What??? Dia cuma ngomong gitu aja? Dasar cowok nyebelin, resek, gga berprikemanusiaan! Enyahlah kau dari muka bumi ini” umpatku. Tapi..kenapa semua orang melihatku ya? Apa aku ngomong terlalu keras ya? Apa aku lupa mengatur volume? OMG! Daripada aku malu disini lebih baik aku segera pergi dan mencari tempat yang lebih tenang. Sepertinya aku sudah berlari terlalu jauh. Saking jauhnya aku sampai gga sadar ada dimana. Kenapa aku ada disini ya? Ini kan taman sekolah yang jarang dikunjungi orang. Duwh..serem banget sich ni tempat. Apa benar ya cerita teman-teman mengenani gadis yang menghilang 3 tahun lalu disini? Sekettika itu pula, bulu kudukku jadi merinding.

“Gara-gara cowok itu sich, aku jadi nyasar kesini! Awas kalau ketemu…”

“Emangnya kalau ketemu mau diapain?”

Aku kaget mendengar suara itu. Bagaimana tidak? Itu kan suara Revan, cowok dingin yang super nyebelin. Ngapaen itu cowok disini, emangnya gga bisa liat orang tenang apa.

“Ngapaen kamu disini, bukannya tadi kamu bilang mau ke kelas ya?” tanyaku.

“Tadinya sich kayak gitu, tapi setelah lama kutunggu kok kamu gga datang-datang ya? Aku takut terjadi apa-apa sama kamu. Lagian kamu kan masih sakit, ngapaen gga diam di UKS aja sich? Dasar cewek, ngerepotin banget!”

“Kalau khawatir ysng tulus donk. Sebenarnya sich aku mau ke kelas, tapi gga tau kenapa malah nyasar kesini?” Aku mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Revan. Kalau boleh jujur, aku senang banget dia khawatir sama aku. Ternyata dia gga sedingin yang aku kira. Walaupun sifatnya kadang-kadang kasar, dia tetap cool di mataku.

“Yawda kalau gitu ke kelas yuk!” ajaknya.

Aku hanya mengangguk dan mengikutinya dari belakang. Tampak punggungnya yang terkena sinar matahari membuat dia tampak gagah. Entah mengapa hari ini aku melupakan segala kebencianku padanya. Hari pertama ini sungguh menyenangkan.

***

Kringgggg….!!! Jam wekerku berbunyi dengan keras. Aku terpaksa terbangun dari mimpi indahku.

“AARRGGHHHHH! Sudah jam 7? Kenapa gga ada yang bangunin aku sich?”

Aku segera mandi dan bergegas berpakaian. Setelah selesai, aku pun berangkat ke sekolah tanpa sarapan dulu. Aku berlari dengan terburu-buru agar tidak terlambat sampai di sekolah. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di sampingku.

“Ayo masuk!” seru Revan dari mobil itu. Aku pun masuk tanpa pikir panjang. Setelah nyaman dengan posisi dudukku, aku pun menghela nafas. Hari ini begitu melelahkan sampai sampai-sampai keringatku bercucuran terus.

“Ini saputangan buatmu! Makanya kalau bangun yang pagian donk. Kalau dah kayak gini siapa yang capek?”

“Makasih ya. Ternyata kamu itu baik banget. Aku gga tahu harus ngomong apa. Dari kemarin aku dah ngerepotin kamu, aku jadi gga enak. Baru sekolah, dah bikin banyak masalah”

“Gga usah dipikirin. Anggap saja ini balasan karena aku dah bikin kamu nangis kemarin”, katanya dengan senyumnya yang menawan itu.

Aku hanya tersenyum balik. Ini senyuman kedua yang diberikannya padaku. Apa itu berarti dia sudah menerimaku jadi teman ya? Ternyata kesiangan bangun kali ini membawa berkah. Aku begitu terpesona akan senyumannya sampai-sampai aku tak sadar sudah sampai di sekolah. Untung bel belum berbunyi, aku jadi tak terlambat. Hari inipun dia menjadi pahlawan bagiku.

“Uh..pelajaran tadi begitu membosankan!” kataku dengan kesal.

“Yawda gga usah dipikirin, lama-lama kamu juga terbiasa. Kita ke taman sekolah yuk..”

“Yuk!”

Walaupun sebenarnya aku takut ke taman sekolah itu, tapi ketika memandang wajahnya rasa takut itu entah sirna kemana. Aku tak bisa melukiskan kebahagiaan yang kurasakan saat ini. Aku begitu nyaman berada di dekatnya. Andai saja dia menjadi pacarku. Itu pasti jadi kado terindah tahun ini. Tapi aku yakin itu tidak mungkin, dia terlalu sempurna untukku. Siapa sich yang gga tahu Revan? Mantan coverboy ini merupakan idaman bagi cewek-cewek di sekolah. Otaknya juga gga kalah encer dibandingkan Einstein (duwh..hiperbola deh kayaknya). Dan yang paling penting, dia itu adalah anak pemilik sekolah ini. Tapi kata teman-teman sampai sekarang dia belum pernah pacaran. Mungkin karena dia terlalu memilih ya? Dia pasti gga mau nyari cewek sembarangan. Kalau sudah kayak gitu, pupus dah semua harapanku.

“Kok ngelamun terus sich dari tadi? Apa kamu masih takut dengan tempat ini?” kata-kata Revan itu menyadarkanku dari lamunan.

“Gga kok..kan disini ada kamu. Hehehe..van, kenapa sich sampai sekarang kamu belum punya pacar?”

“Kenapa ya…? Mungkin gga laku! Hehehe…”

“Masa cowok setampan kamu gga ada yang mau sich?”

“Yang mau sich banyak. Tapi aku ngerasa belum menemukan cewek yang cocok sama aku. Aku ingin punya pacar yang bener-bener sayang sama aku. Bukannya mau cari popularitas dariku. Selama ini aku banyak kok nemuin cewek yang kayak gitu. Kalau gga matre ya sok cantik. Pokoknya aku masih nyari yang cocok aja. Sampai saat itu tiba, aku akan terus ngejomblo.Tapi..sepertinya aku sudah menemukan cewek itu!”

“Siapa…?” aku semakin penasaran dengan cewek yang dimaksud Revan. Apa dia begitu sempurna ya sampai Revan jatuh cinta sama dia”

“Nanti kalau sudah jadian baru aku bilang”

***

Aku termenung seorang diri memikirkan kata-kata Revan siang tadi. Ternyata Revan sudah jatuh cinta pada seorang cewek. Dan cewek itu bukan aku. Kenapa perasaanku gga terima kayak gini ya? Apa aku kecewa dengan keputusannya? Tapi aku gga berhak ngelarang dia suka sama siapa. Aku kan bukan siapa-siapanya. Tiba-tiba hpQ berbunyi dan ternyata itu sms dari Revan.

‘AKU TUNGGU DI TAMAN SEKOLAH! CEPAT DATANG YA, AKU MAU NGOMONG SESUATU’

Sebenarnya dia mau ngomong apa ya malem-malem kayak gini? Aku jadi bingung mau dia apa. Tapi aku segera berjalan menuju taman sekolah. Aku berharap dia mau ngomong sesuatu yang selama ini aku harapkan. Aku gga mau kecewa. Ya..Tuhan kenapa perasaanku deg-degan kayak gini ya? Setelah lama berjalan, akhirnya aku sampai juga di taman sekolah. Taman ini begitu gelap. Seketika itu pula bulu kudukku jadi merinding. Revan dimana sich? Aku kan kesini gara-gara dia yang nyuruh. Apa dia cuma mau ngejailin aku ya? Ya..Tuhan kenapa aku tadi langsung kesini. Kalau dia cuma bercanda gimana? Percuma donk aku kesini.

“Revan kamu dimana?”

Gag ada jawaban sama sekali. Hanya hembusan angin malam yang terdengar. Aku begitu takut sampai ingin menangis. Tapi tiba-tiba lampu di sekelilingku menyala dan di bawah pohon itu aku melihat dia. Ya, dia Revan. Bukan hantu atau manusia jadi-jadian. Aku begitu gembira melihatnya. Aku segera menghapus tangisku dan berlari ke arahnya.

“Aku takut Van. Ngapaen sich kamu ngajak aku ke tempat kayak gini?” Dia membelai rambutku dan tersenyum. Sejujurnya aku gga tahu arti di balik senyumnya itu. Tapi aku bersyukur dia tidak membohongiku. Apalagi aku begitu nyaman berada di pelukannya. Dan ketika aku membalikkan badan, aku melihat lilin-lilin membentuk ukiran hati. Dan yang paling menakjubkan, di ukiran hati itu aku melihat tulisan yang bertuliskan I LOVE ECHA.

“Apa maksudnya ini Van?” tanyaku padanya.

“Ini hanyalah bentuk rasa sayangku padamu. Dan asal kamu tahu, cewek yang aku maksud tadi siang itu adalah kamu. Maukah kamu jadi pacarku?”

Aku ternganga mendengar apa yang dia katakan. Aku begitu menyukai caranya menyatakan perasaan padaku. Sungguh romantis. Malam yang penuh bintang ini menjadi sangat berkesan bagiku. Lilin-lilin yang membentuk ukiran hati itu membuatku sangat percaya akan ketulusannya. Mungkin sekarang aku adalah gadis yang paling bahagia di dunia ini.

“Iya…” begitu ujarku lembut.

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s