KARENA KITA BERBEDA (versi percakapan)

Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WITA, tapi dia belum juga muncul disini. Padahal sedari tadi aku sudah menunggunya. Kini aku mulai ragu dia akan datang ke toko ini. Jika benar begitu, alangkah malangnya diriku sebab aku sudah ingin bertemu dengannya sejak pertemuan kemarin. Ketika sedang memikirkan dia, tiba-tiba pintu toko terbuka dan dia masuk ke dalam dengan tubuh kehujanan. Ya, lelaki tampan itu adalah orang yang kutunggu-tunggu. Rio..begitu nama panggilannya. Dia adalah anak dari pemilik toko ini. Lelaki yang sangat tampan dan cerdas kupikir. Setiap hari dia datang ke toko ini dan membantu pekerjaan ibunya. Hari inipun dia melakukan hal yang sama. Ketika dia melihatku, dia tampak kagum seperti biasanya. Bukannya sombong, tapi aku adalah wanita tercantik yang ada di toko ini. Itu sebabnya pemilik toko ini selalu mempekerjakan aku di depan. Eits..hampir lupa aku dengan lelaki tampan yang kini berdiri di sebelahku. Dia mulai mendekat dan semakin mendekat, aku seketika menjadi malu dan gugup. Dia menyentuh kerah bajuku dan mulai merapikannya. Dia tak pernah lupa untuk memeriksa setiap detail yang ada di tubuhku. Bukannya berharap, tapi sepertinya dia menyukaiku.

“Kau tampak cantik seperti biasanya”, gumam Rio.

Aku ingin mengucapkan terima kasih tapi tiba-tiba ibunya Rio memanggilnya.

“Rio..kenapa kamu datang lagi? Ibu kira setelah kemarin, kamu gag akan datang lagi?”

“Yeee..ibu ngusir aku ya? Aku cuma pengen bantu ibu aja..lagian disini nyenengin kok”

“Bener nyenengin? Ibu kira kamu bosen?”

“Ya gag lah bu.”

“Sita mana? Kok gag pernah kelihatan lagi?

“Udah putus bu..gag cocok. Dia minta ini itu, gag pernah mau ngertiin keadaannya aku. Lama-lama aku jadi bosan bu..”

“Ya udah terserah kamu..sana bantuin ibu majang pakaian di depan”

“Iya bu…”

Aku berusaha mencuri dengar apa yang mereka bicarakan. Sepertinya masalah pacar yang tempo hari dibawa oleh Rio. Dan mereka bilang Rio dan Sita sudah putus? Kabar baik yang membuatku senang. Mungkin ini adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Aku menjadi bersemangat kembali dan bertekad untuk mewujudkan impianku, yaitu menjadi pendamping Rio untuk selamanya. Rio kembali ke ruang depan untuk memajang baju-baju yang baru saja diimpor dari luar negeri. Dia tampak keras bekerja, keringatnya bercucuran di lantai. Aku ingin membantunya, tapi sepertinya bukan waktu yang tepat. Saat aku sedang menatapnya, dia kembali menatapku. Aku menjadi salah tingkah dibuatnya. Dia mendekatiku kembali dan tersenyum padaku. Setelah itu dia berbalik dan bekerja kembali.

Hari sudah menunjukkan pukul 12.00 WITA, tiba-tiba pintu toko terbuka kembali. Seorang pembeli yang berkelas sepertinya. Tampak dari pakaian bermerk yang dikenakannya. Gadis yang berambut pirang itu sepertinya sudah mengetahui seluk-beluk toko ini, dibuktikan dari kesigapannya memilih pakaian. Dia tahu dimana tempat baju keluaran terbaru. Mungkin dia pelanggan tetap disini. Maklum aku baru disini.

Ketika asyik memandangnya, Rio datang dan tampak terkejut ketika memandang gadis itu. Tampaknya mereka sudah saling kenal.

“Ery..”

“Rio..”

“Ngapain kamu disini?”

“Kamu juga ngapain disini?”

“Ibuku yang punya toko ini. Kamu ini ditanya kok balik nanya sich?”

“Maaf..aku kaget waktu ngeliat kamu disini. Ternyata kamu toch yang punya toko ini. Gimana hubunganmu ma Sita? Masih berlanjut gag? Aku sebenarnya agak gag rela waktu aku tahu ternyata selama aku di Amerika kamu pacaran sama Sita.”

“Udah putus Ry..kemarin, dia minta ini dan itu, aku jadi pusing. Sita gag seperti yang aku bayangin. Lebih the best kamu Ry..”

“Cie..sekarang baru bilang gitu. Dulu aja mertahanin Sita terus. Katanya kamu sayang banget sama dia.”

“Itu kand dulu Ry..ternyata gag akan ada yang pernah ngegantiin kamu di hatiku Ry”

“Bener nie yang kamu bilang Rio?”

“Iya..aku mana pernah sich bohong”

“Percaya..percaya..mau balikan ma aku gag? Jujur aja aku masih sayang banget sama kamu”

“Iya..mau Ry”

Aku terpukul dengan apa yang baru saja kudengar dan kulihat itu. Pyang…aku menjatuhkan diriku sendiri. Seperti tak percaya dengan apa yang barusan kudengar. Baru saja aku mendapatkan kabar baik, tapi ternyata malah kabar buruk yang mengakhiri hariku dan mengakhiri hidupku juga. Untuk apa aku hidup kalau hanya melihat Rio dan pacar barunya bermesraan. Aku juga bodoh..tak seharusnya aku berpikir bisa menjadi pacarnya. Aku berbeda dengan dia. Aku memang cantik…tapi aku hanya sebuah MANEKIN.

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s