SITTI NURBAYA

Judul                     :  Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)

Penulis                  :  Marah Rusli

Penerbit                 :  Balai Pustaka

Cetakan                 :  2002

Tebal halaman        :  271 halaman

Tokoh                    : Sitti Nurbaya, Samsulbahri, Datuk Maringgih, Baginda Sulaiman, Sutan Mahmud, Sitti Maryam, Sitti Alimah, Pak Ali, Arifin, Bakhtiar.

Sinopsis :

Dua orang anak muda tampak bernaung di bawah pohon sekitar pukul satu siang. Mereka adalah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri. Anak laki-laki yang sering dipanggil Sam oleh teman-temannya adalah anak Sutan Mahmud Syah, Penghulu di Padang dan temannya yang dipanggil Nur adalah anak Baginda Sulaiman, seorang saudagar kaya di Padang. Mereka berteman sudah sejak lama. Mereka selalu bersama-sama. Hingga suatu hari, Samsulbahri harus berangkat ke Jakarta untuk melanjukan sekolahnya. Sebelum berangkat Samsulbahri menyatakan cintanya pada Sitti Nurbaya. Dan ternyata perasaan itu terbalas. Sungguh berat rasanya bagi mereka karena harus berpisah. Besoknya Samsulbahri dan teman-temannya, Arifin dan Bakhtiar berangkat untuk melanjutkan sekolah ke Sekolah Dokter Jawa dan Sekolah Opseter di Jakarta.

Sudah tiga bulan sejak kepergian Samsulbahri. Nurbaya termenung ketika seorang Pak Pos memberikan surat dari Samsulbahri. Setelah selesai membaca surat, dia tertidur. Kira-kira pukul dua malam dia terbangun karena 3 buah tokonya terbakar. Sutan Mahmud curiga bahwa toko itu sengaja dibakar tapi dia tidak tahu siapa pelakunya karena sepertinya Baginda Sulaiman tidak punya musuh. Belum cukup musibah itu, 5 perahu yang mengangkut kapal miliknya tenggelam. Sehingga ayahnya meminjam uang kepada Datuk Maringgih. Tetapi dalam 3 bulan ia selalu rugi. Pohon kelapanya pun berbusuk dan tidak berbuah lagi. Bila dia tidak bisa melunasinya maka dia akan di penjara dan disita rumahnya. Karena tak tega pada ayahnya, Sitti pun akhirnya menikah dengan Datuk Maringgih.

Saat bulan Ramadhan, Samsu pulang dan menemui Sitti. Mereka berdua pun bercakap-cakap dan tanpa sengaja terbawa perasaan karena lama tak bertemu. Mereka berpelukan dan berciuman dan tanpa sengaja dilihat oleh Datuk Maringgih. Datuk Maringgih marah karena mereka bertemu diam-diam. Terjadilah keributan. Baginda Sulaiman buru-buru keluar dari biliknya dan ketika dia menurubi tangga, jatuhlah ia terguling-guling dan akhirnya meninggal. Sitti marah dan mengusir Datuk Maringgih dari rumahnya. Ayahnya pun dikuburkan di Gunung Padang. Sementara itu ayah Samsu mengusir Samsu dari rumahnya. Ibunya menangis dan akhirnya jatuh sakit. Pada saat itu juga Sitti dan Datuk Maringgih bercerai.

Sitti pun tinggal di rumah sepupunya, Sitti Alimah. Sitti hanya termenung memikirkan kepergian Samsulbahri, Alimah yang melihat Sitti sedang termenung berusaha menghiburnya.  Dan Alimah menyarankan untuk menyusul Samsu ke Jakarta. Sitti menyetujuinya dan akan berangkat Sabtu depan. Sitti merasa lega dan terlelap tidur besama Alimah. Kemudian Sabtu depan Nurbaya dan Pak Ali menaiki kapal dan akan segera berangkat ke Jakarta. Mereka tidak menyadari dua orang laki-laki mengikuti mereka. Mereka adalah Panglima Tiga dan Panglima Lima.. Panglima Tiga kembali ke Padang untuk memberitahukan Datuk Maringgih. Sedangkan Panglima Lima masih mengikuti Sitti Nurbaya. Di kapal tiba-tiba ada badai, Sitti pun duduk di kursi. Tiba-tiba Panglima Lima muncul dan hendak melempar Sitti ke laut. Tapi Sitti duluan minta tolong dan Pak Ali pun segera menolongnya. Mendengar banyak orang yang datang, Sitti Nurbaya pun disuruh beristirahat di kamar sakit. Saat kapal tiba, Samsu segera menuju kamar sakit dan menjenguk Sitti. Tiba-tiba datang schout memeriksa dan menyerahkan surat pada Samsu yang ternyata berasal dari Datuk Maringgih yang isinya menuduh Sitti mengambil barang-barang milik Datuk Maringgih. Ketika tidak ditemukan apa-apa mereka pun keluar dari kapal itu.

Pada suatu ketika, tampak Sitti Nurbaya dan Sitti Alimah sedang becakap-cakap. Ketika mereka sedang bercakap-cakap didengarlah suara tukang jualan kue. Sitti membeli 4 buah lemang. Ketika dia memakannya dia pun tertidur. Setelah diperiksa, ternyata dia sudah tidak bernapas lagi. Ternyata yang menjual kue itu adalah Pendekar Empat, anak buah Datuk Maringgih. Ibu Samsu yang sakit keras di kampung sebelah pun tiba-tiba berpulang. Makam kedua jenazah ini dikuburkan dekat makam Baginda Sulaiman. Samsu yang mendengar kabar ini merasa sedih dan terpukul. Dia pun menembakkan pistol ke kepalanya hingga berlumuran darah.

Sepuluh tahun kemudian tampak dua orang opsir berjalan. Salah satunya adalah Letnan Mas yang gagah berani di medan perang sehingga tanda bintang pun menghiasinya. Suatu hari dia ditugaskan ke Padang untuk memungut uang belasting. Karena masyarakat disana tak setuju dengan peraturan itu, terjadilah kerusuhan. Tampak Datuk Maringgih ikut menyerang. Letnan Mas pun segera menyerangnya. Setelah diamati, ternyata Letnan Mas adalah Samsulbahri. Betapa terkejutnya dia, tetapi peperangan tetap berlangsung. Hingga pistol Samsu mengenai Datuk Maringgih dan parang Datuk Maringgih mengenai Samsu. Terkaparlah mereka berdua. Letnan Mas segera dibawa ke dokter. Disana dia meminta untuk bertemu dengan Sutan Mahmud. Setelah itu, dia pun meninggal. Beberapa tahun kemudian Sutan Mahmud pun meninggal. Di Gunung Padang tampak 5 buah nisan berjejer. Dimana itu adalah makam dari Baginda Sulaiman, Sitti Nurbaya, Samsulbahri, Sitti Maryam, dan Sutan Mahmud.

THE END

2 thoughts on “SITTI NURBAYA

  1. I think the admin of this web page is genuinely working hard
    in support of his web site, because here every information is quality based material.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s