MOTIVATOR RAHASIAKU

Lily, begitu sapaan akrabku. Tak ada satu pun orang yang tak mengenal aku. Aku cantik, smart dan bertanggung jawab. Selain itu kepintaranku dalam memikat hati membuat teman-teman dan guru menjadi sayang padaku. Modeling, Fotography, dan Dance sudah pernah aku jalani. Jabatan sebagai Ketua Osis pun pernah kuraih. Tak ada sedikit cela di hidupku. Hampir semua orang bilang kalau hidupku sangat sempurna. Semua pujian itu membuat aku tumbuh menjadi gadis yang sombong dan egois. Tak pernah sekalipun aku mendengarkan temanku, aku hanya percaya pada diriku sendiri. Karena aku tahu dengan pasti, aku pasti benar.

Mungkin semua sifatku membuat teman-teman mulai menjauhiku. Teman-teman yang dulu menyanjungku mulai mencemoohku, guru-guru pun sudah kecewa dengan semua tingkah lakuku. Setiap ada tugas kelompok, hanya Ray yang menemaniku. Ray? Cowok kutu buku yang norak abisss..Kacamatanya aduhai tebelnya..kuperkirakan sudah mencapai minus 10. Oow..lengkaplah sudah beban hidupku. Tapi dia teman yang bisa diandalkan. Dia lumayan pintar, walaupun masih tak sebanding dengan aku. Hanya berdua saja, kami selalu mendapatkan nilai sempurna di setiap tugas kelompok.

Itu membuat aku menjadi tambah bangga, aku pikir aku tak akan pernah membutuhkan siapa-siapa. Padahal pacarku, Eric sudah berulang kali menasehatiku agar aku segera mengubah sifatku. Dasar Lili, mana denger kata-kata kayak gitu. Cuma masuk telinga kanan dan keluar di telinga kiri. Untung Eric orang yang sabar, dia selalu bersedia menemaniku, menyemangatiku dan mengarahkanku. Tak pernah ia mengeluh ketika aku meluapkan segala emosiku padanya. Aku sayang padanya, itu hal yang selalu kurasakan.

Tapi..tak ada yang bisa membantah perintah Tuhan.

“Lily”, seru Erni, adik dari kak Eric.

“Kenapa Er?” aku menjawab singkat.

“Kak Eric..Kak Eric..di rumah sakit. Tadi dia kecelakaan dan sekarang sedang koma”

“Ericcccc…..ayo cepat antar kakak ke rumah sakit”

Aku sangat terpukul ketika mendengar berita itu. Aku tak mungkin membiarkan seorang yang sudah menjadi bagian hidupku meninggal begitu saja. Aku harus melihatnya, meski hanya sebentar saja. Jantungku berdetak begitu cepat, keringat dingin mulai mengucur dan menghujani wajahku. Aku menjadi tak tenang apalagi Erni terus menangis.

Sesampainya di rumah sakit, taxi berhenti. Aku segera berlari menuju kamar tempat Eric dirawat. Ketika aku menemukan kamar 567, aku segera masuk dan mendapati tubuh Eric yang lemas terkulai.

“Eric!”, aku tak dapat menahan tangis. Aku memeluk Eric dengan sekuat tenaga.

“Ly..janji ya sama Eric..kalau nanti Eric udah gga ada, jangan jadi orang yang sombong lagi. Kan sekarang gga ada Eric, ntar siapa donk yang ngibur Lily. Eric gga mau ngeliat Lily dibenci sama teman-teman.”

“Eric gga boleh ngomong gitu. Lily gga mau Eric pergi, ntar siapa yang jagain Lily.”

“Ly….”, Eric mencoba berkata lagi..tapi tak mampu. Seketika tangannya tak bertenaga lagi. Eric hanya tinggal kenangan.

“Ericcccc…jangan tinggalin Lily”, aku berteriak sekencang-kencangnya berharap Eric mendengarnya dan kembali ke tubuhnya. Tapi semua tampak sia-sia karena Eric yang dulu selalu menemaniku sudah tak ada lagi.

Setelah kejadian itu aku tak bisa mengingat apa-apa lagi.

***

Aku mengerjapkan mataku. Ketika aku sadar, ternyata aku sudah berada di rumah. Orangtuaku menjaga di samping tempat tidurku. Makanan dan minuman terletak di atas mejaku. Aku ingat sekarang, aku tak sadarkan diri di rumah sakit ketika melihat Eric meninggal. Aku tak mampu mengahadapi ini semua, aku menangis dan memeluk mama. Sekarang aku hanya punya orang tuaku, teman-teman sudah tak ada yang berani mendekatiku. Saat ini baru kusesalkan, mengapa tak sejak dulu aku berubah. Akh..beginilah penyesalan, selalu datang belakangan.

Pagi harinya aku tak bersemangat ke sekolah. Emosiku belum pulih benar, apalagi kejadian itu baru terlewatkan kemarin. Di sekolah pun, aku hanya bisa termenung dan meratapi nasibku. Di kelas, di taman maupun di kantin, aku hanya bisa mengerutkan wajahku. Aku ingin berbuat seperti apapun tak akan ada yang memperdulikanku. Karena mereka semua bukan temanku.

Ketika aku sudah kehilangan semua akalku, aku mencoba pergi ke perpustakaan. Tempat yang sepi dan cocok dengan suasana hatiku sekarang. Seperti biasa, tak banyak murid yang mengunjungi tempat ini karena dirasa sangat membosankan. Tapi ada satu tempat yang membuatku tertarik, di pojokan. Aku berjalan ke arah sana dan mendapati sosok yg ehm..sangat tidak menarik. Dia si Ray..cowok kutu buku yang doyan ngomong. Aku duduk di sampingnya dan mulai membaca buku juga.

“Tumben”, sapa Ray mengejutkanku.

“He ehm..lagi pingin aja. Mangnya gga boleh?”

“Boleh..lagi ada masalah ya non?  Kok tampangnya muram gitu?”

“Peduli apa kamu?”, aku mulai risih ditanya-tanya seperti itu.

“Galak banget sich..Ray tahu kok kamu lagi ada masalah. Dan Ray tahu masalahnya apa. Gag usah sedih gitu Ly..kan masih ada Ray. Lagian gag ada gunanya kamu sedih, dia gag bakal kembali. Dia pasti juga bakal sedih kalau ngeliat kamu gini. Menurut Ray, kamu harus ngelakuin pesan yang disuruh sama Eric”

“Tahu apa kamu soal Eric? Kamu gag tahu apa-apa dan kamu gag berhak ikut campur. Sedih atau gag itu urusan aku”

“Saat kayak gini kamu masih aja sombong, angkuh. Selama ini aku mau satu kelompok sama kamu karena aku merasa iba. Tapi kamu gag pernah nganggep itu penting. Eric juga berharap kamu bisa gaul ma teman-teman yang lain. Biar kalau ada masalah kamu bisa share ma yang lain. Masih mau ngelawan sekarang?”

“Lily malu kalau harus minta maaf sama teman yang lain, lagian Lily udah banyak salah sama mereka. Mereka pasti gag mau maafin Lily”

“Udah nyoba belum? Sini aku anterin ke kelas. Dijamin..pasti dimaafin”

Belum selesai aku menjawab, Ray sudah menarikku dan menyeretku ke kelas. Di hadapan teman-teman Ray membantu menjelaskan semuanya. Aku pun ikut minta maaf karena selama ini tak mengindahkan perkataan mereka. Ada yang menanggapiku dengan baik, dan ada pula yang menanggapiku dengan buruk. Tak apa lah..aku tahu tak mudah menerima kata maaf. Aku berterimakasih pada teman-teman yang mau memaafkanku. Dan aku senang karena aku bisa memenuhi janjiku pada Eric. Aku juga janji tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh teman-teman.

Dan yang terakhir, aku ucapkan terima kasih pada MOTIVATORKU, RAY…..

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s