KARENA KITA BERBEDA

Sudah 5 menit aku berdiri disini. Sejenak kupandangi baju-baju keluaran terbaru yang dipajang di berbagai sudut etalase. Tampak mewah dan elegant. Semuanya indah dan menawan. Sesekali ku lirik pintu masuk, sampai detik ini pun belum ada orang yang datang, padahal jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WITA. Aku tetap bersabar dan menunggu, berharap lelaki tampan yang kemarin datang lagi. 5 menit…10 menit…15 menit…dan akhirnya pintu terbuka. Seseorang yang tampak berkelas memasuki toko.Terbukti dari dasi, kemeja, sepatu dan jam tangan yang limited edition. Matanya, hidungnya, bibirnya dan semua yang ada di dirinya tampak sempurna. Tak sedikitpun ada cacat di bagian fisiknya. Seseorang yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya dan dia juga yang telah membuat semangatku bangkit kembali. Karena dia, aku masih bertahan disini. Dia adalah Rio. Belakangan baru ku tahu bahwa dia adalah anak dari pemilik toko ini. Sangat pintar kupikir, karena dia merupakan mahasiswa Kedokteran. Sejak kemarin dia selalu mengunjungi toko ini untuk membantu ibunya. Lelaki yang baik…..

Besoknya dia ke toko lagi. Senang sih senang..tapi hati ini sepertinya tidak mau diajak kerjasama. Selalu dag dig dug tak karuan. Membuat seluruh pikiranku jadi terganggu. Aku selalu berusaha menepis semua khayal ini dalam benakku, menghapus semua anganku kepadanya, tapi tiba-tiba dia mendekatiku. 1 langkah… 2 langkah… 3 langkah… dan langkah terakhir membuatnya kini berada di hadapanku. Dia memperhatikanku dari atas ke bawah, dia juga memperhatikan setiap detail yang ada di tubuhku. Dia mulai bergerak menyentuhku dan ternyata hanya memperbaiki kerah baju yang sedang ku kenakan. Aku jadi gugup dan malu… tak seharusnya dia memperlakukan aku seperti ini. Dia keterlaluan karena dia telah berhasil membuat jantungku berdegup kencang. Ketika kulirik dia, dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah puas melihatku, dia berbalik dan bergegas pergi. Sepertinya akan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Dari sudut manapun aku memandang, dia selalu terlihat tampan. Bagaimana dia bekerja dan apa yang dikerjakan selalu tampak bagus di mataku. Kuakui dia anak yang cukup ulet, tak sedikitpun dia membiarkan waktu kosong begitu saja, dia selalu membagi waktu dengan baik. Perfect…

Esok harinya, sang surya tetap menyinari alamnya, begitu juga menyinari hatiku. Hati yang selama ini dipenuhi oleh hasrat untuk memiliki. Ketika pintu berderit, aku segera melirik ke arah pintu masuk. Tapi dia bukan Rio. Dia seorang gadis yang cantik. Rambutnya panjang dan terurai, hitam berkilau. Hidungnya mancung seperti gadis keturunan India, walaupun telinganya agak lebar, tapi bibir mungilnya berhasil membuat pandanganku beralih. Sejenak aku tertegun dengan balutan busananya, baju yang aku pikir adalah sebuah merk terkenal. Dia pintar memadukan pakaiannya. Warnanya kuning keemasan, tampak pas di tubuh mungilnya. Seperti seorang trendsetter, semuanya mengikuti zaman dan tampak berbeda. Gaya 2010 mungkin. Aku jadi kagum padanya. Aku tak bisa melepaskan pandanganku terhadapnya, high heelsnya tampak cantik berada di kakinya. Sandal yang pasti bisa membawanya ke tempat yang bagus pula.

Lamunanku tiba-tiba terhenti ketika Rio berada di samping gadis itu. Rio tersenyum kepadanya, sama seperti dia memberikan senyum kepadaku. Tak sempat aku berpikir, dia memeluk gadis itu. Rio tampak bahagia ketika bertemu dengannya. Aku tak tahu siapa gadis itu, tapi mereka tampak sangat akrab dan kompak. Tak sampai 5 menit, Rio dan gadis itu minum teh di depan toko. Pasangan yang kompak yang satu cantik dan yang satunya tampan. Tapi aku masih belum yakin apakah gadis itu adalah pacarnya atau bukan. Berbagai pikiran muncul di benakku, semua pikiran negative mengalahkan pikiran-pikiran positifku terhadap Rio. Pikiranku mulai kacau, aku menjadi gelisah tak karuan, tapi malaikat berhasil menenangkanku, aku memang tak pantas menghujamnya dengan sebuah tuduhan apabila ternyata belum ada bukti. Aku mulai mendinginkan kepalaku, dan berusaha berpikir positif kembali. Saat aku perlahan-lahan menenangkan pikiranku, Bu Lisa, ibunya Rio datang. Dia menyambut gadis itu dengan baik. Mereka tampak senang dan tertawa dengan bahagia.  Sesekali Bu Lisa menepuk bahu gadis itu dan tersenyum pada Rio. Aku jadi iri melihat suasana itu, tapi alangkah terkejutnya aku ketika gadis itu mengeluarkan sebuah kotak yang ternyata di dalamnya ada cincin perkawinan.

Aku sudah tak tahan lagi. Aku ingin mengeluarkan semuanya, aku ingin berteriak dan membatalkan semua rencana itu. Walaupun hanya sekali, aku ingin Rio tahu bahwa aku mencintainya, aku ingin memilikinya. Tapi semuanya sudah terlambat. Tak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya bisa memandangi mereka dari kejauhan, tanpa sanggup bergabung dengan mereka. Dari awal seharusnya aku tahu bahwa aku dan Rio tak akan pernah sanggup untuk bersatu. Aku tak sempurna, aku tak bisa berbicara, tak bisa mendengar dan tak sanggup bergerak. Aku berbeda dengan Rio, karena aku hanya sebuah MANEKIN.

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s