JANJIKU PADAMU

Kulirik sekali lagi handphone yang sedari tadi menemaniku. Sudah hampir setengah jam berlalu, namun tak sekalipun ku dengar handphoneku berbunyi. Aku tak ingin terlalu memikirkannya, namun perasaan ini seakan tak mau searah dengan jalan pikiranku. Aku terus memutar otak dan berusaha menjauhkan pikiran negative.

“Ayo..ayo..positive thinking Sarah..Lelaki itu masih mencintaimu,” ujarku di dalam hati.

Aku masih tak mengerti mengapa jariku tak berhenti bergerak. Terus mengetuk meja yang sudah lama usang itu.

Ke kanan..ke kiri..kepalaku terus bergerak mengikuti langkah cicak di dinding, sesekali kulihat HP Nokia yang baru saja kubeli minggu lalu itu.

“Kriiiiiiiiingggg..”

“Halo!” suaraku tampak gugup, berharap dewi fortuna sedang di pihakku.

“Iya..halo!” terdengar suara Ratna dari seberang sana.

“Ternyata bukan….” gumamku dalam hati. “Ada apa Ratna?”

“Tidak..aku hanya ingin memastikan keadaanmu baik-baik saja”

“Tenang saja..aku tidak apa-apa. Tak perlu terlalu mencemaskanku”

“Syukurlah kalau begitu. Aku senang kamu masih baik-baik saja.”

“Iiiaaaa…sudah dulu ya..sepertinya aku mulai mengantuk”

“OK..sampai ketemu di sekolah ya..”

“Ia”

Tut..tut..tut..

Aku menaruh kembali handphone itu di meja belajarku. Sepertinya tak ada gunanya berharap. Dia pasti sudah melupakanku..itu pasti. Huft..aku ingin tahu bagaimana reaksinya besok ketika bertemu denganku. Mungkinkah dia masih bisa tersenyum setelah kejadian malam itu? Aku tahu aku yang salah. Tapi tak seharusnya aku yang menanggung ini semua. Dia juga melakukan itu…sama seperti yang aku lakukan. Tapi kenapa dia bereaksi seolah-olah akulah yang harus bertanggung jawab? Ini tidak adil….

***

“Astaga…” aku segera bangun dari tidurku. Sepertinya tadi aku sedang bermimpi buruk. Ah..hal itupun sampai terbawa mimpi. Sungguh tak mengenakkan. Kaki kecilku mulai kutapakkan di lantai dan dengan segera aku berjalan menuju teras rumahku. Aku membuka jendela dan melihat burung-burung bercicit dengan indahnya. Tampak rukun dan mereka berhasil membuatku iri. Lama-lama aku bisa kehilangan akal kalau berdiam diri seperti ini terus. Aku bergegas mandi dan mengambil tas Barbie kesayanganku. Aku terburu-buru sampai lupa memakan sarapan yang telah disediakan oleh ibuku. Dengan Varioku, aku berangkat ke sekolah. Tak kuindahkan peringatan polisi ketika aku menerobos lampu merah. Aku ingin segera sampai di sekolah..aku harus menemuinya..

“SMA BAKTI NEGARA”. Akhirnya aku sampai disini juga. Palang yang terpampang begitu kuat di depan sekolah seakan membuatku bangga. Bagaimana tidak, ini merupakan sekolah unggulan yang menjadi favorite. Banyak siswa yang mendaftar tapi hanya yang memiliki prestasi lah yang bisa sekolah disini. Ketika aku sampai di tempat parkir, kulihat Jazz merah sudah mengambil posisinya. Dia sudah datang……

Aku segera berlari ke kelas dan mendapatinya sedang duduk dan merapikan isi tasnya.

“Ehm..ehm..”

“Ehm..ehm..” ulangku

Tak sedikitpun dia memperdulikanku, sepertinya kehadiranku dirasa tidak penting.

“Sayang…” kataku pelan. Aku berusaha bersikap manis padanya walaupun aku tahu dia tak akan terlalu menanggapiku.

“Kamu manggil aku?” ujarnya ketus.

“Memangnya kamu pikir aku punya berapa orang yang kusayang?”

“Mmmmm…gag tau ya..mungkin lebih dari yang kutahu”

“Ian..kenapa kamu ngomong gitu sih? Sarah sayang sama ian…”

“Sory ya..males dengernya” sahutnya. Tanpa mendengarkan jawabanku, dia pergi seolah-olah aku hanya angin lalu saja. Tak disadari air mataku mengalir. Aku tak sanggup diacuhkan seperti ini lagi. Biarlah…cukup aku saja yang tahu betapa tersiksanya diri ini.

Aku butuh teman curhat..aku tidak ingin bersedih dan memikul beban ini sendirian. Aku segera pergi ke luar kelas dan mencari Ratna..tampak gadis itu sedang mencari buku di perpustakaan..

“Dasar kutu buku,” pikirku.

“Ratna..” panggilku lirih.

“Kenapa sayang? Pagi-pagi udah cari aku? Kangen ya?”

“Jangan becanda akh…aku lagi serius”

“Iya..iya..pasti masalah Adrian lagi kand? Eh..aku punya informasi menarik nieh..Tadi aku sempat nemuin anak cewek yang kemarin makan malam sama Adrian..”

“Terus..terus…”kataku bersemangat.

“Penasaran ya? Hehehehe..adik kelas kita itu namanya Chacha. Dia gag ada hubungan apa-apa sama Adrian. Cuma..kemarin itu Chacha memang sudah ada rencana buat nembak Adrian. Hebat ya cowok kamu..Chacha itu kan model majalah yang lumayan tenar. Tapi two thumbs up for ur darling..dia nolak Chacha lho. Adrian mau jujur kalau dia sudah punya pacar. Dia juga bilang..walaupun kamu orangnya ceroboh dan ngeselin, dia sayang banget sama kamu”

“Masa sih dia ngomong gitu?”

“Iya..Chacha sendiri yang cerita kayak gitu”

“Berarti aku salah donk..bukannya nanya baik-baik malah balik manesin dia. Mana pake acara peluk-pelukan lagi. Pantesan dia marah banget. Aduch..gimana donk caranya buat ngejelasin ke dia. Aku gag mau salah paham terus sama dia. Tapi sampai sekarang kayaknya dia belum bisa maafin aku. Tadi aja aku gag diperduliin.”

“Tenang aja..tadi aku dah ngubungin Rino biar bikin janji sama Adrian. Ntar pas istirahat kita bisa ketemu dia di belakang sekolah.”

“Tapi gimana bisa?”

“Udah..gag usah dipikirin. Balik ke kelas yuk..udah bel masuk, sambil persiapan buat istirahat nanti”

“Iya..”

Aku tetap menjaga langkahku sampai akhirnya tiba di kelas. Mataku sempat bertemu dengan mata Adrian. Akh..aku rindu bertatapan dengannya. Aku ingin segera berlari dan memeluknya. Tapi aku berusaha menahannya sampai istirahat nanti.

***

Bel berbunyi tiga kali, tanda istirahat dimulai. Aku berteriak kegirangan meski hanya di dalam hati. Dengan semangat aku mengucapkan salam pada Ibu guru yang masih berdiri di depan kelas. Setelah Bu Nely membalas salam, aku dan Ratna segera pergi ke belakang sekolah. Berharap kalau Adrian mau memenuhi janjinya. Beberapa menit kemudian, Rino datang..tapi aku masih tampak cemas karena sampai sekarang Adrian belum jua datang. Padahal waktu terus berlalu. 5 menit..10 menit..hingga akhirnya 20 menit, tampak lelaki keturunan Inggris itu menampakkan wajahnya. Hidungnya yang mancung tampak sepadan dengan bibirnya yang mungil. Oh my god..kenapa aku tak mempercayai lelaki ini? Padahal kami sudah jadian hampir 2 tahun.

Adrian mulai mendekati kami, tanpa basa-basi ia mulai memulai pembicaraan ini.

“Ngapain nyuruh aku kesini?”

“Rino pengen ngomong ma kamu, ian..”sahut Sarah mendahului.

“Ia..sebenarnya aku sama Sarah gga ada hubungan apa-apa. Sarah cuma jealous aja waktu ngeliat kamu makan bareng sama Chacha, makanya dia pengen manesin kamu. Ternyata Sarah salah paham, maafin aku juga ya udah ngebuat kalian jadi berantem kayak gini”, kata Rino mulai menjelaskan duduk permasalahannya.

“Kenapa gga kamu aja yang cerita Sarah?”, tanya Adrian.

“Gimana mau cerita kalau tiap diajak ngomong Ian kayak gitu sama Sarah?”

“Habis Sarah gga tahu apa-apa malah bikin cemburu Ian. Tuh kan sekarang udah ketahuan siapa yang salah? Makanya lain kali ditanya dulu, jangan asal bikin keputusan sendiri”

“Iaaa..maafin Sarah, lain kali gga bakal kayak gini lagi. Sarah janji sama Ian..”

“Janji…?”, ulang Adrian.

“Iaaaaa…janji..”

Selesai mengucap kata janji, Adrian melingkarkan jari kelingkingnya di jari kelingkingku. Kali ini memang aku yang salah, lain kali gga akan pernah terulang lagi.

“Aku janji sama kamu Ian”, gumamku di dalam hati.

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s