Asap Dupa dari Pulau Dewata (Gugurnya Gusti Ketut Jelantik)

Judul Buku               :  Seri Cerita Sejarah : Asap Dupa dari Pulau Dewata (Gugurnya Gusti Ketut Jelantik)

Penulis                    :  T.Nooriyah

Penerbit                  :  PT Sarana Panca Karya Nusa, Bandung

Cetakan                  :  II, April 2003

Jumlah halaman      :  46 halaman

Sinopsis :

Di tahun 1841, seorang Raja Buleleng  tampak duduk di singgasananya dengan wajahnya yang suram. Ia sedang terpekur, memikirkan sesuatu yang mungkin akan segera menjadi kenyataan. Di hadapannya duduk patihnya yang terkenal, Gusti Ktut Jelantik.  Seorang patih yang bijaksana.  Dengannya lah, Raja mengadu. Tak lama kemudian patih pun bertanya apa yang menjadi pikiran dari Raja. Ternyata asal mula dari kerisauan Raja adalah pikirannya tentang kehancuran Kerajaan Buleleng karena mendapat penindasan bangsa asing. Apalagi Kerajaan Badung, Karangasem, Klungkung, telah mendapat bagian untuk menandatangani perjanjian bahwa mereka harus tunduk kepada Pemerintah Belanda. Belanda mulai berdatangan ke Pulau Dewata sejak abad ke-17. Mulanya hanya ingin mengadakan perdagangan dengan hanya beberapa buah kapal saja. Tapi mulai abad ke-19, Pemerintah Belanda ingin menguasai Bali. Di sela-sela pembicaraan mereka datang tamu yang tak lain adalah opsir Belanda. Maksud kedatangan mereka adalah menyampaikan kabar bahwa seluruh kawasan Buleleng sudah dikuasai oleh Pemerintah Belanda, dan Raja Buleleng harus tunduk di bawah satu pengawasan pihak Pemerintah Belanda. Tentu saja Raja Buleleng dan patih menolak karena tidak menguntungkan dua belah pihak. Opsir Belanda itu tersenyum karena dia tidak mengira bahwa Raja Buleleng tak mudah digertak.  Opsir itupun pergi dan Raja Buleleng mendiskusikan masalah tersebut dengan patih.

Kemudian di tahun 1844, di pantai pelabuhan Kerajaan Buleleng warga masyarakat Buleleng melihat benda hitam yang sebentar muncul dan sebentar tenggelam karena terhalang gumpalan laut, benda itu tidak lain adalah sebuah kapal. Masyarakat pun melakukan “tawan karang”, yang artinya bila ada kapal asing yang terdampar ke pantai Bali, maka semua isi dan muatannya menjadi milik kerajaan yang menguasai pantai tersebut. Kapal yang terdampar itu adalah kapal dagang Belanda. Awak kapal itu terdiri dari orang Indonesia yang dipekerjakan di kapal dagang tersebut. Tapi kapal dagang Belanda itu pun dilengkapi dengan senjata-senjata modern, sehingga kapal tersebut bisa menjadi kapal perang. Awak-awak kapal itu pada mulanya akan membela diri. Tetapi kemudian akhirnya mereka menyerah. Mereka ditawan dan diserahkan kepada Raja Buleleng. Setelah menyerahkan semua yang dirampas oleh warga kepada Raja, Patih Jelantik memberi perintah kepada warga untuk bersiap-siap dan waspada karena Belanda tentu akan menuntut pembebasan awak-awak kapal itu. Tidak lama setelah penduduk itu pergi dari istana, raja beserta patihnya membicarakan berbagai kemungkinan yang bakal datang.

Di sisi lain, Belanda yang pada saat itu bermarkas di Gresik dan Surabaya, segera membicarakn peristiwa penawaran kapal itu. Belanda pun mengirimkan surat perintah agar Buleleng membebaskan semua awak kapalnya dan mengembalikan semua harta benda termasuk senjata yang dirampas. Tapi apa yang diharapkan Belanda tidak dihiraukan oleh Raja Buleleng. Hal itu membuat Belanda semakin panas hatinya. Pada suatu pagi di tahun 1846, beberapa buah kapal layar Belanda meninggalkan pelabuhan Tuban dan Surabaya. Awak kapal dan prajurit Belanda yang berjumlah kurang lebih 1700 orang itu menuju ke pantai Belanda. Sebaliknya pihak kerajaan Buleleng yang sudah memperhitungkan bakal diserang, segera pula bersiap-siap.  Bahkan persiapan perang telah dilakukan sejak penawanan kapal Belanda dua tahun yang lalu. Ketika kedua pasukan itu bertemu di pantai Buleleng, terjadilah bentrokan senjata. Pihak Belanda bertempur dengan nafsu. Mereka ingin membuktikan kepada Buleleng bahwa Pemerintah Belanda lebih kuat dari pasukan Kerajaan Bali di manapun. Akhirnya peperangan itu tampak tidak seimbang, Raja Buleleng menyerah kalah, tapi Patih Jelantik dan beberapa pengiringnya sempat melarikan diri untuk menyusun rencana selanjutnya. Patih Jelantik dan beberapa pengiringnya melarikan diri menuju ke arah selatan. Namun dalam perjalanan, beberapa pengiringnya ditembak oleh musuh.

Kini hanya tinggal Patih Jelantik, dan sekarang dia telah sampai di perbatasan Kerajaan Klungkung. Patih pun mengganti pakaiannya dengan pakaian Kerajaan Klungkung, tujuannya agar tidak diketahui oleh musuh. Setelah berhadapan dengan Raja Klungkung, ia mengutarakan maksudnya untuk mengadakan persatuan dengan kerajaan-kerajaan lainnya yang ada di Bali. Raja Klungkung setuju dan Patih pun melanjutkan perjalanannya ke Kerajaan Karangasem, dan mengirim surat kepada Kerajaan Mengwi dan Badung. Isinya sama yaitu ingin mengadakan persatuan untuk mengalahkan pemerintah Belanda. Pada akhirnya, Patih Jelantik kembali ke Kerajaan Buleleng. Dikabarkan bahwa rencana patihnya itu tetap dilaksanakan sesuai dengan rencana. Dengan kata lain, kerajaan Buleleng dan Karangasem tidak mengikuti tuntutan Belanda. Hal ini membuat Belanda jengkel, dan Belanda pun mempersiapkan diri untuk menggempur kerajaan-kerajaan yang ada di Bali. Sebelum pihak Belanda benar-benar siaga, maka Kerajaan Buleleng, Karangasem dan Klungkung lebih dulu memperkuat dirinya dan siap mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Hanya beberapa bulan setelah menerima surat dari Patih Jelantik, Kerajaan Mengwi dan Badung yang siap mendukung, telah mulai mengadakan penyerangan terhadap pos-pos pertahanan Belanda. Pos-pos Belanda diserang dan senjatanya dirampas.

Pada bulan Juni 1848 terjadi perang yang lebih hebat dari perang sebelumnya. Buleleng mempertahankan diri mati-matian di benteng Jagaraga. Penyerangan mereka kali ini tidak terlalu dibagi-bagi. Tapi sekaligus menuju Kerajaan Buleleng dan menghantam benteng Jagaraga. Meskipun Istana Buleleng terkepung, namun prajurit Buleleng masih mengadakan perlawanan sampai titik darah yang terkakhir. Pada suatu kesempatan, ketika Gusti Ktut Jelantik mengadakan perlawanan dengan pedang, tiba-tiba senjata Belanda tertuju kepada Raja Buleleng. Hal itu segera diketahui oleh Jelantik. Ia segera menerjang prajurit Belanda yang akan membunuh Raja. Tapi sial baginya, peluru Belanda telah meletus. Ia roboh. Kini Gusti Ktut Jelantik rebah namun di bibirnya menghias senyum kebahagiaan. Bahagia karena ia telah menjadi tameng rajanya yang ia cintai. Setelah gugurnya Gusti Ktut Jelantik, maka perlawanan Kerajaan Buleleng, di Bali mulai menurun. Bahkan Kerajaan Badung, Bangli dan Jembrana pada akhirnya menyerah. Kemudian Raja Karangasem pun gugur dalam pertempuran melawan Belanda. Selanjutnya raja-raja di Bali dipaksa tuduk di bawah kekuasaan Belanda. Dan sejak saat itu di Bali tidak ada lagi pemberontakan-pemberontakan melawan penjajah Belanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s